Fosil ‘Sepupu’ Manusia Ditemukan di Afrika

Fosil ‘Sepupu’ Manusia Ditemukan di Afrika

Fosil ‘Sepupu’ Manusia Ditemukan di Afrika

Fosil ‘Sepupu’ Manusia Ditemukan di Afrika – Manusia purba merupakan makhluk hidup yang pernah hidup dan mendiami bumi pada ribuan tahun yang lalu. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi tempat untuk tinggal bagi manusia purba pada masa itu. Keberadaan mereka dapat diketahui berdasarkan peninggalan berupa fosil.

Fosil adalah sisa tulang belulang binatang atau sisa tumbuhan zaman purba yang telah membatu dan tertanam di bawah lapisan tanah.

Tim peneliti berhasil menemukan APK Poker Deposit 10000 fosil yang dipercaya sebagai ‘sepupu’ manusia di Afrika Selatan. Fosil tersebut diperkirakan berusia 2 juta tahun.

Tim peneliti dari Australia, tepatnya dari Universitas La Trobe, Melbourne berhasil menemukan fosil Paranthropus robustus, spesies yang dipercaya sebagai ‘sepupu’ dari manusia (Homo sapiens) yang kita kenal sekarang.

Fosil yang diperkirakan berusia 2 juta tahun itu ditemukan di situs arkeologi Drimolen, di sebelah utara kota Johannesburg, Afrika Selatan.

Fosil tersebut ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan fosil tengkorak Homo erectus yang ditemukan tahun 2015 silam. Jarak antara kedua fosil itu ditemukan hanya terpaut beberapa meter saja.

Saat ditemukan, fosil Paranthropus robustus itu dalam kondisi baik, dalam artian fosilnya utuh dan terawetkan dengan sangat baik. Sebenarnya fosil tersebut sudah ditemukan pada 2018 silam, namun baru sekarang diungkap ke publik lewat publikasi ilmiah di jurnal Nature, Ecology and Evolution.

Para peneliti memperkirakan spesies Paranthropus robustus dan Homo erectus hidup dalam era yang sama. Namun spesies Paranthropus robustus memiliki otak yang lebih kecil dibandingkan Homo erectus.

Fosil Paranthropus robustus, 'sepupu' Manusia Ditemukan di Afsel

Ukuran giginya juga lebih besar-besar dibandingkan dengan Homo erectus. Meski diperkirakan hidup di era yang sama, menurut para peneliti, spesies Paranthropus robustus mati atau punah lebih dulu dibandingkan dengan Homo erectus.

“2 Spesies ini sangat berbeda, yang merepresentasikan percobaan evolusi yang berbeda pula. Sementara kita adalah keturunan yang menang di akhir, catatan fosil 2 juta tahun yang lalu menunjukkan, Paranthropus robustus lebih banyak dijumpai dibandingkan Homo erectus di daratan,” kata Dr Angeline Leece.

Butuh waktu dua tahun bagi para peneliti untuk mengungkap tabir misteri tentang Paranthropus robustus. Serangkaian analisis fosil dilakukan sampai akhirnya para peneliti yakin untuk mengungkapnya lewat jurnal ilmiah yang terbit pekan ini.

Temuan para peneliti juga mengungkap bahwa sepupu mAnusia Paranthropus robustus memiliki diet makanan berupa tumbuh-tumbuhan keras dan kulit batang pohon. Itu menunjukkan alasan mengapa gigi mereka besar-besar.

“Seiring waktu, Paranthropus robustus akan berevolusi untuk menggunakan energi lebih selama proses menggigit dan mengunyah makanan yang keras atau secara mekanis menantang untuk diolah menggunakan rahang dan gigi mereka,” ujar Dr Leece.

 

Comments are closed.