Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu

Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu

Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu

Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu – Sejarah Eropa dimulai dari sejak manusia pertama menghuni daratan Eropa pada zaman prasejarah hingga saat ini. Untuk prasejarah Eropa, manusia mulai masuk ke Eropa pada Zaman Batu Tua (Paleolitikum).

Penerapan pertanian sekitar tahun 7000 SM mengantar manusia masuk Zaman Batu Muda (Neolitikum). Neolitikum di Eropa berlangsung selama 4000 tahun bersamaan dengan tersebarnya budaya penggunaan logam ke seluruh benua.

Tidak seperti saat ini di mana sains telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Di zaman dulu, ada banyak pandangan gila dan absurd tentang Login Club388 sains. Ya, pandangan-pandangan tersebut bahkan dipegang sebagai sebuah rumusan atau gagasan yang mutlak dianggap benar.

1. Orang yang percaya sains akan dianggap murtad

5 Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu, Seperti Apa?

Pandangan ini sudah jamak terjadi di masa lalu. Bagi orang-orang Eropa pada saat berada dalam abad kegelapan, memercayai sains itu sama artinya dengan murtad atau melawan dogma-dogma keyakinan pada saat itu. Ditulis dalam jurnal sains Nature, di zaman dulu bangsa Eropa memang pernah jauh dari sains karena tertutup oleh banyaknya oknum atau pejabat tinggi yang mengatasnamakan agama.

Bahkan, pengaruh doktrin keagamaan di Eropa sangat kuat dan kerap memojokkan ilmuwan atau kalangan akademisi. Ilmuwan-ilmuwan besar macam Galileo Galilei, Nicolaus Copernicus, Giordano Bruno, dan Charles Darwin adalah segelintir ilmuwan yang dianggap sesat dan menyimpang di Eropa pada zaman dulu.

Namun, pada satu titik, bangsa Eropa semakin maju dan mulai memahami bahwa agama mereka tidak bertentangan dengan sains sama sekali. Titik balik inilah yang menjadi salah satu fondasi dari landasan berpikir mereka di masa-masa modern. Para sejarawan modern telah menemukan beberapa bukti yang menyatakan bahwa persidangan dan intimidasi terhadap ilmuwan mungkin hanya didasarkan pada keegoisan para pejabat keagamaan Eropa.

2. Sains juga dipandang sebagai salah satu metode sihir

5 Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu, Seperti Apa?

Sains juga pernah dipandang sebagai salah satu metode yang digunakan dalam praktik sihir. Faktanya, pada abad pertengahan, beberapa negara di Eropa sangat aktif dalam melakukan perburuan terhadap penyihir, dilansir dalam Britannica. Mirisnya, tuduhan-tuduhan terhadap penyihir tersebut dilandasi pada pola pikir yang irasional dan mentalitas penganiayaan.

Itu sebabnya, dalam beberapa kasus, sebagian orang yang berkecimpung dalam sains terbiasa untuk menutupi dirinya sendiri dari pandangan publik. Mereka memilih tidak membuka identitas sebagai penggagas sains karena dikhawatirkan akan berujung pada tuduhan penyihir.

Laman History Extra mengungkap bahwa pada 1400-an hingga 1782 saja, korban yang dituduh penyihir dan dieksekusi mati di Eropa mencapai 100 ribu orang. Periode ini menjadikan Eropa abad pertengahan sebagai salah satu periode dengan catatan sejarah paling kelam.

3. Sains yang benar justru dipandang sebagai hoaks

5 Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu, Seperti Apa?

Pada zaman dulu, ada banyak rumusan dan pemikiran akan sains yang dianggap hoaks dan nyaris semua orang tidak percaya dengan sains. Namun, di sisi lain, Yunani kuno ternyata sudah menjadikan sains sebagai bagian dari hidup, dicatat dalam National Geographic. Sejak zaman Sebelum Masehi, Yunani sudah banyak menelurkan pemikir-pemikir dan filsuf hebat.

Mengapa ada banyak orang menganggap sains merupakan hoaks di masa lalu? Karena banyak dari mereka yang tidak memiliki sifat keingintahuan yang kuat layaknya orang-orang Yunani kuno. Kebanyakan bangsa Eropa, Afrika, dan Asia masih memilih pandangan-pandangan irasional sebagai pegangan hidup mereka.

Sebuah jurnal sains yang diterbitkan dalam laman Universitat de Barcelona menyatakan bahwa di zaman dulu, iman dan sains merupakan dua hal yang selalu dipertentangkan. Pembuktian empiris akan sains di masa lalu memang sangat sulit dilakukan, mengingat pada abad pertengahan belum ada teknologi-teknologi canggih yang mampu mendukung sains.

4. Sains dianggap sebagai propaganda untuk melawan kemapanan sebuah struktur sosial

5 Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu, Seperti Apa?

Kemapanan akan sebuah struktur sosial rupanya selalu dijaga dan menjadi tolok ukur dalam bermasyarakat, terutama pada zaman feodalisme abad pertengahan. Zaman feodalisme Eropa merupakan salah satu era yang paling melekat dan pernah dicatat dalam sejarah. Menurut laman Ancient, feodalisme membuka jalan bagi kekuasaan pemilik tanah terhadap orang-orang yang ada di dalamnya.

Nah, dengan suburnya sistem feodalisme di Eropa pada abad pertengahan, hal tersebut membuat sains justru makin memudar. Sains ditekan karena pemikiran baru akan suatu hal wajib mendapatkan izin dari otoritas penguasa. Sayangnya, mayoritas pemikir dan ilmuwan di zaman dulu bukanlah kaum dari kalangan atas, melainkan jauh dari kekuasaan politik.

Sistem feodalisme yang telah mapan tersebut rawan terhadap hal-hal baru yang dianggap tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Sains bahkan pernah dianggap sebagai propaganda yang mengancam kemapanan sebuah hierarki feodalisme dalam tatanan sosial bangsa-bangsa Eropa kuno.

5. Sains pernah dianggap sebagai siasat untuk meruntuhkan agama di Eropa

5 Pandangan Gila Bangsa Eropa tentang Sains di Masa Lalu, Seperti Apa?

Sebagai klimaksnya, sains pernah dipandang sebagai siasat licik untuk meruntuhkan dogma-dogma keagamaan yang ada di Eropa pada zaman kuno. Secara terang-terangan para pejabat dan pengadilan agama di Eropa mengecam dan menghukum siapa saja yang dianggap menentang mereka.

Sebuah artikel sejarah yang dimuat dalam The Public Broadcasting Service menyatakan bahwa “peperangan” antara agama dan sains di masa lalu merupakan hal yang jamak dan dijadikan pandangan umum sebagai sebuah pembenaran individu. Seorang ilmuwan di abad kegelapan Eropa tidak akan hidup nyaman akibat peraturan ketat yang membelenggu mereka.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, rupanya bangsa Eropa mulai terbuka dan menganggap bahwa agama bisa sejalan dengan sains. Sejarawan bernama Ronald Numbers menyatakan bahwa sejak dulu bangsa barat seolah memiliki dua “kitab”, yakni kitab agama dan kitab sains. Faktanya, kedua “kitab” tersebut tidak perlu diperdebatkan karena memang bisa sejalan dan saling melengkapi.

Comments are closed.